June 19, 2014

ART|JOG 14: Legacies of Power


P.S. It's going to be a really long post, so make sure you have time to read until the last dot! ;)

Pertanyaan pertama saya pada yang membaca ini, pernah dengar soal ART|JOG? Mengutip dari web resminya, ART|JOG itu...
merupakan sebuah bursa seni rupa kontemporer yang unik. Berbeda dengan bursa seni rupa lainnya, ART|JOG secara langsung memamerkan karya seni rupa kontemporer Indonesia, mulai dari karya seniman-seniman muda berbakat hingga perupa papan atas Indonesia. Diselenggarakan di Yogyakarta, salah satu kota heritage di Indonesia dengan karakternya yang khas: perpaduan atmosfer tradisi budaya Jawa yang kental dan gerak kehidupan kontemporer yang dinamis dan terbuka. Yogyakarta juga dikenal sebagai dapurnya produksi seni rupa kontemporer di kawasan Asia Tenggara. Sebagai art fair yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun, ART|JOG sekaligus menjadi semacam outlet untuk melihat kecenderungan artistik terkini karya-karya seni rupa kontemporer Indonesia.
Nah, sudah lebih paham apa itu ART|JOG sebenarnya? Dikarenakan saya bukan orang seni, tidak belajar seni, dan tidak terlalu moncer memahami semiotika... Saya harap anda-anda yang lebih tahu soal seni tidak akan meneror, stalking, kemudian memaketkan saya ke Segitiga Bermuda. It was just an honest opinion and a review from my point-of-view.

Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa saya dua kali ke sana. Rabu, 11 Juni 2014 sekitar jam 19.00 WIB bersama Elrepyan + Arief (kemudian kami misah aja gitu) dan Sabtu, 14 Juni 2014 jam 16.00 WIB bersama duo Elrepyan + Aef.

Tahun politik, ART|JOG 14 mengangkat tema Legacies of Power. Bagi saya, ini semacam refleksi, satir-sarkas soal, "bagaimana masa depan (Indonesia) kita, ha?". Sebelum ngomongin karyanya secara detail *halah*, saya mau bilang kalau ART|JOG tidak pernah gagal membuat saya kagum. TBY itu selalu jadi bukan TBY kalau ART|JOG sedang berlangsung. Bagian dalamnya yang sesungguhnya tidak seberapa, jadi berasa "ini luasnya sebenernya seberapa sih...."

Memasuki halaman TBY, boneka-boneka karung goni sejumlah 150 buah menyapa. Iya, itu ditata berundak sedemikian rupa menyerupai foto kabinet kalau di depan Istana Negara. Melihat video proses pembuatannya, saya kagumlah. Bayangin gimana ribetnya selama proses pembuatan. Bonekanya seukuran manusia, btw. Dijahit dong satu-satu. Mas Samsul, kamu keren sekali. Tetaplah mengedukasi dengan karya-karyamu ya, Mas! *kamu siapa sok akrab*

Rentang tiga hari kunjungan saya, banyak--oke, sebenernya nggak banyak bener, tapi berasa--perubahan. Pertama, mbak yang jaga tiket di pintu masuk jadi lebih tegas. Ia memperingatkan soal ini dan itu. Kedua, setiap karya diberi batasan garis merah (ada yang hitam juga). Ketiga, dari pintu masuk mau tidak mau harus searah jarum jam alias belok kiri nontonin karyanya, karena arah sebaliknya ditutup pake pembatas. Jujur, saya bahagia banget lihat perubahan-perubahan tersebut. Tiga perubahan tersebut kalau saya boleh sok tahu, untuk menghargai karya dan pengunjung. Biar semua tertib, semua nyaman, semua senang.

Hampir semua karya di ART|JOG bikin saya punya respon berupa: kagum yang tidak habis-habis/ sedih--miris/ ketawa getir/ ketawa karena sarkas si karya saya setujui. Selain respon, tentunya saya juga jadi berkaca, jadi berpikir ulang soal apa yang terjadi sama bangsa tercinta selama ini. Saya belajar.

Jadi, bagian 'terima kasih kepada' untuk pelajaran dan refleksi yang saya dapat minggu-minggu ini saya berikan untuk karya-karya indah di bawah ini (yang maafkan, tidak saya catat semua seniman di balik karya dan judulnya...)


Lihat tidak kalau itu seorang anak naik di atas senjata yang seharusnya kuda-kudaan? Jujur, itu bikin saya sedih lihatnya. Tanpa harus banyak menyangkal, terkadang anak-anak yang semestinya masih main hahahihi mau tidak mau ikut jadi tentara. Ikut perang, bawa-bawa senjata yang notabene lebih besar dari badan. Iya, anak-anak tanpa dosa begitu. Mungkin bukan di Indonesia, tapi coba telisik negara yang sedang 'heboh' sekarang.

Dari Abu Kembali Menjadi Abu, Dari Debu Kembali Menjadi Debu

Ini nih yang bikin saya dan Aef ketawa karena sarkasnya :)) Ingat 14 Februari lalu Yogyakarta terkena dampak paling parah letusan Gunung Kelud? Warga membersihkan abu, dimasukkan ke dalam karung, kemudian ditumpuk di depan-depan gang gitu. Nah, yang dipertanyakan dalam karya ini adalah gimana kalau dampak letusan Gunung Kelud tersebut di Jakarta dan terjadi pada saat pemilihan presiden mendatang? Eaaa.



Karya di atas semacam berbicara kalau orang itu akan mencari eksistensi atas dirinya (terima kasih Aef untuk pencerahannya). Cari tempat dimana bisa dapet spotlight in our life *diiyain aja*. Lihat kayu itu kan? Dia kalau diinjak, bakal ngeluarin suara riuh tepuk tangan dan menyalakan lampu sorot. Saya dan Aef berhenti beberapa menit di dalam ruang karya tersebut dipajang. Lucu juga mengamati bagaimana pengunjung yang masuk sikapnya berbeda-beda. Dua anak kecil itu, harus naik berdua karena sepertinya si karya bekerja dengan berat. Lucuuuu.

Arya Pandjalu - Shielded

History Repeats Itself

"Jika setiap generasi berharap pada generasi yang akan datang untuk memperbaiki kesalahan yang sekarang, maka kesalahan akan terus berulang dan tidak akan pernah menjadi lebih baik. Tidak belajar dari sejarah dan memperbaikinya sekarang hanya akan berujung pada malapetaka."
-Titarubi- 

the detail of History Repeats Itself
Sungguh, saya kira ya beads biasa. Ternyata setelah didekati se-epic itu....

Celebration

"Pola, sistem dan aturan main pesta demokrasi sejauh ini selalu sama, hanya berbeda pada siapa pesertanya [...] Terkesan basi, tapi masyarakat harus tetap menjalaninya dan pesta harus tetap berjalan dengan segala dinamikanya."
-Hendra Priyadhani-

Epic artworks are epic! Seriusanlah saya kagum, ketampar dan jadi refleksi banyak hal dari lihat karya-karya tersebut. Seni, sejauh ini menurut kami memang jadi media kritik yang satir-sarkasnya bisa diterima orang. Bukannya kritik yang bikin pengen naik pitam. Terima kasih ke Aef dan El yang mau diskusi sama saya selama nontonin x)

Nah, ART|JOG memang keren as always. Sayang, untuk tahun ini ada 'tapi'-nya. Sungguh, saya menyarankan siapapun yang benar-benar ingin menikmati dan mengapresiasi setiap karya di ART|JOG untuk datang pada jam 09.00 - 15.00 WIB. Kenapa? Setelah rentang tersebut akan banyak orang dan tongsis dimana-mana. Iya, setelah jam 15.00 WIB itu semua orang yang datang entah gimana berasa cari background foto. Foto di depan karya satu, pindah ke karya yang lain--yang menurut mereka bagus--bahkan tanpa menengok judul dan caption karya. Saya--sewaktu datang pertama kali--gemes minta ampun sama kelakuan orang-orang tersebut. Maaf, namun hal tersebut sangat mengganggu yang benar-benar ingin menikmati karya. Ya nggak apa-apa sih kalau mau berfoto, tapi tahu diri tahu situasi dan kondisi. Mengutip El, "ini ART|JOG, bukan kumpulan background foto."

Ada lagi yang bikin saya ngedumel sendiri nih. Stiker "Do not touch the artworks" yang bertebaran sekaligus diabaikan. Entah sengaja diabaikan, sengaja tidak dilihat atau sengaja tidak dipahami. Kalau stiker tersebut bernyawa dan/atau bisa berekspresi, sudah pasti ia akan marah-marah bahkan sedih.


Jadi, untuk anda-anda yang berniat untuk berkunjung atau mengunjungi kembali ART|JOG, tolong buat Rp 10.000,00 yang sudah anda bayarkan itu menjadi bermanfaat ya :) Hormati sesama pengunjung, hargai setiap karya. Menghargai karya berarti anda menghargai para seniman beserta segala proses dalam pembuatannya. Jangan berbicara soal hak kalau anda melanggar hak orang lain. Ingat, ART|JOG adalah sebuah pameran seni kontemporer. Terakhir, ada infographic yang saya dapat dari akun twitter ART|JOG.


Selamat mengapresiasi, selamat menikmati ART|JOG 14.

April 29, 2014

Something About the Sky



A few days ago, for the first time I went up to my university's library rooftop to meet some new friendly people. One thing that caught my attention was, of course, the sky. I always love to raise my head and look up to the sky, day and night. I love it when the clouds are 'dancing'--moving so fast or form a shape of something magical. I love it when the sun goes down and the colour of the sky is changing beautifully.


The sky that day was cloudy, but, hey that wasn't a bad thing. For me, the sky over the rooftop's still magical. Look how dramatic it was. There's always something about the sky which never fail to fascinate me.


Mind to watch the sky over the rooftop again, you?

March 2, 2014

I'll Never Get Bored Listening To...

Pentatonix - Run to You



Payung Teduh - Tidurlah



Payung Teduh - Kita adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan



Gamal & Audrey - Thought of You (Justin Bieber Cover)



Mew - Snow Brigade



Us - Take Me Home



Us - Falling in Love



Lorde - Team



It's just a random post actually... Some of my favourite songs which I could play sooo many times a day. IMO, they all have beautiful lyrics and rhytms. Don't you think so? :)

February 15, 2014

Marchesa F/W 14 #NYFW

Just one thing I asked to myself when see Marchesa's: what's not to love? Embroidered gowns, elegant colors and designs... I can't even choose my-most-favorite among the 34 looks, because every single piece is soooo lovely and adorable! Here they are some of the beautiful Marchesa's.









(Source: InStyle)


February 13, 2014

Tibi F/W 14

It's Tibi, baby! Its entire collection for Fall/Winter 14 is so simple yet stylish. Playing with (mostly) neutral pallete, from grey to navy, also red. Here they are my-favorite-pieces from Tibi, the latest pict is fascinated me. High hat really look so good in that look!






Source: WhoWhatWear, click it to see the entire collection.


February 12, 2014

Karen Walker F/W 14 #NYFW

Well, I'm not that expert on fashion and everything that related to it, but I know what's caught my eyes and made me fall in love like I wanted to scream *lebay*. From all the brand which paticipated on NYFW, Karen Walker's is my 'first destination' to see the whole collections. What more can I say? I love them all. Especially the black loafers with a gold-touch on it and the gold one.

Here they are my most-favorite-pieces from Karen Walker F/W 14









Source: WhoWhatWear



February 5, 2014

Secuil dari Sebuah Artikel

Orang itu kalau tidak peka akan menjadi mudah marah, akan menjadi mudah menghakimi. Kepekaan itu menyelamatkan banyak hal. Untuk saya dan untuk orang lain. Karena menjadi tidak peka, mau dilakukan karena sengaja atau tidak, itu mencerminkan sebuah ketidakdewasaan seorang makhluk dewasa.
     Peka itu melahirkan pengertian dan kemampuan untuk menerima, bahwa orang lain memiliki cara pandang yang berbeda, mau Anda setuju atau tidak.

Samuel Mulia, 
dalam artikel berjudul Peka, termuat di kolom Parodi harian Kompas, Minggu 2 Februari 2014